Jalan Garut Rusak Bertahun-tahun, Dedi Mulyadi Tanggapi Anggaran yang Mengkhawatirkan

Jalan rusak di Kabupaten Garut telah menjadi sorotan utama masyarakat, dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tidak tinggal diam. Responnya terhadap keluhan yang muncul seputar infrastruktur jalan di wilayah tersebut menunjukkan adanya ketimpangan dalam alokasi anggaran pembangunan. Hal ini menjadi penting untuk dibahas, mengingat dampaknya terhadap mobilitas dan kesejahteraan masyarakat Garut.

Alokasi Anggaran yang Disoroti

Pada hari Minggu, 13 September, Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) untuk Kabupaten Garut tahun 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah merekomendasikan alokasi sebesar 7 persen dari total APBD. Angka ini setara dengan Rp360 miliar yang seharusnya digunakan untuk pembangunan jalan.

Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Garut hanya mengalokasikan Rp105 miliar, atau sekitar 2,2 persen dari total APBD, untuk pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, dan penerangan jalan umum (PJU). Ini jelas tidak sebanding dengan kebutuhan yang mendesak di lapangan.

Permasalahan Anggaran yang Minim

Dari total alokasi Rp105 miliar tersebut, hanya sekitar Rp80 miliar yang akan digunakan khusus untuk perbaikan jalan. Dedi Mulyadi menegaskan bahwa jumlah ini sangat tidak memadai untuk memperbaiki jalan yang luas dan memerlukan perhatian lebih. Ia menambahkan, “Tidak mungkin kita dapat memperbaiki jalan yang begitu luas hanya dengan Rp80 miliar hingga Rp105 miliar, termasuk anggaran untuk PJU.”

Keadaan ini tentu menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Garut. Mereka merasa hak mereka untuk mendapatkan infrastruktur yang layak dan aman tidak terpenuhi. Dengan kondisi jalan yang terus memburuk, mobilitas warga terganggu, yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan mereka.

Tindakan Proaktif dari Pemprov Jabar

Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah cepat dengan memanggil Bupati Garut beserta Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk melakukan evaluasi di Bandung. Pertemuan ini bertujuan untuk mendiskusikan langkah-langkah yang harus diambil untuk memperbaiki alokasi anggaran yang ada.

Dedi Mulyadi menekankan pentingnya perubahan dalam anggaran APBD 2026 agar sesuai dengan rekomendasi gubernur. Ini merupakan upaya untuk memastikan bahwa masyarakat Garut dapat menikmati infrastruktur jalan yang layak, yang merupakan hak dasar setiap warga negara.

Pentingnya Infrastruktur yang Memadai

Infrastruktur jalan yang baik sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat. Jalan yang rusak tidak hanya mengganggu perjalanan sehari-hari, tetapi juga dapat menghambat akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Oleh karena itu, perbaikan jalan rusak di Garut harus menjadi prioritas utama.

Suara Masyarakat yang Tak Terabaikan

Pada tanggal 20 Agustus 2026, ratusan warga dari Kecamatan Banjarwangi, Singajaya, dan Peundeuy melakukan unjuk rasa di depan kantor DPRD Kabupaten Garut. Mereka menuntut perhatian serius terhadap jalan utama Garut Selatan yang telah rusak selama lebih dari 11 tahun. Protes ini menjadi simbol dari kekecewaan masyarakat terhadap kondisi infrastruktur yang ada.

Aksi demonstrasi ini juga mencerminkan rasa frustrasi masyarakat yang merasa diabaikan oleh pemerintah. Para sopir angkutan umum, yang merupakan salah satu kelompok paling terdampak, menyatakan bahwa kondisi jalan yang buruk mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan.

Pemekaran Wilayah sebagai Solusi?

Dalam aksi tersebut, para demonstran juga mengancam akan mempertimbangkan opsi pemekaran wilayah jika pemerintah tidak menunjukkan itikad baik dalam memperbaiki jalan yang rusak. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi oleh masyarakat Garut dan betapa pentingnya tindakan cepat dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

Dengan adanya ancaman pemekaran, pemerintah diharapkan dapat lebih fokus pada penyelesaian masalah infrastruktur dan mendengarkan aspirasi masyarakat. Keberanian masyarakat untuk bersuara ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.

Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

Menanggapi semua keluhan dan aksi masyarakat, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa langkah tegas harus diambil untuk memastikan perbaikan jalan yang rusak. Ini bukan hanya tentang meningkatkan infrastruktur, tetapi juga tentang memberikan harapan dan kepercayaan kepada masyarakat Garut bahwa suara mereka didengar dan diperhatikan.

Perbaikan jalan yang rusak di Garut bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, perlu bekerja sama untuk menemukan solusi yang efektif dan berkelanjutan.

Dengan langkah-langkah yang tepat dan pengelolaan anggaran yang lebih baik, harapan untuk melihat jalan-jalan di Kabupaten Garut diperbaiki dan berfungsi dengan baik bukanlah hal yang mustahil. Masyarakat berhak mendapatkan infrastruktur yang layak, dan pemerintah bertanggung jawab untuk mewujudkannya.

➡️ Baca Juga: MTI dan DEN Waspadai Krisis Energi Jelang Mudik 2026, Dampak Ketegangan Timur Tengah Meningkatkan Kekhawatiran

➡️ Baca Juga: Jadwal Semifinal Futsal Indonesia Vs Vietnam Piala AFF 2026, Perebutan Tiket Final

Exit mobile version