Menag Dorong Lulusan PTIQ untuk Adaptif terhadap Zaman dan Kuasai Teknologi Tanpa Kehilangan Identitas

Jakarta – Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an (PTIQ) Jakarta merayakan momen bersejarah dengan mewisuda 1005 lulusannya dari berbagai program studi, termasuk sarjana, magister, dan doktor, di The Krakatau Grand Ballroom, Taman Mini Indonesia Indah, pada Rabu, 23 September. Acara ini tidak hanya menandai pencapaian akademis, tetapi juga menjadi simbol harapan dan dedikasi para lulusannya untuk masa depan.

Pentingnya Pendidikan dalam Membentuk Karakter Lulusan PTIQ

Rektor Universitas PTIQ Jakarta, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, dalam sambutannya, mengucapkan selamat kepada semua wisudawan yang telah berhasil menyelesaikan studi mereka. Menurutnya, hari ini merupakan tonggak penting yang mencerminkan ketekunan belajar, dukungan orang tua, bimbingan dari para pengajar, dan tentu saja, rahmat dari Allah SWT.

“Angka 1005 bukan sekadar angka statistik; di baliknya terdapat 1005 kisah perjuangan, harapan keluarga, serta amanah ilmu yang harus dijaga oleh setiap lulusan,” ungkap Prof. Nasar. Setiap lulusan PTIQ memiliki perjalanan unik yang dipenuhi dengan pengorbanan, kerja keras, dan komitmen yang kuat dari keluarga serta pengajar mereka.

Peran Keluarga dan Pengajar dalam Kesuksesan Lulusan

Prof. Nasar menekankan bahwa setiap wisudawan PTIQ membawa cerita perjuangan yang luar biasa. “Ada doa tanpa henti dari ibu, kerja keras ayah, kesabaran keluarga, serta keikhlasan dari dosen dan pembimbing yang turut berkontribusi dalam perjalanan pendidikan mereka,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan akademis tidak hanya ditentukan oleh usaha individu, tetapi juga oleh dukungan lingkungan sekitar.

Tanggung Jawab Sosial Lulusan PTIQ

Setelah meraih gelar akademik, Prof. Nasar berharap agar para lulusan dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, agama, bangsa, dan negara. “Kami tidak ingin menghasilkan lulusan yang hanya cerdas secara akademis tetapi jauh dari kepedulian sosial. Kami perlu lulusan yang memiliki hati yang peka terhadap permasalahan masyarakat,” tegasnya.

“Gunakanlah ilmu dan gelar yang telah diperoleh sebagai jembatan untuk pengabdian kepada masyarakat. Jangan sampai gelar tersebut menjadi penghalang untuk berinteraksi dengan masyarakat,” lanjutnya. Hal ini menjadi pesan penting bagi setiap lulusan untuk senantiasa menjalin hubungan baik dengan masyarakat yang lebih luas.

Adaptasi terhadap Perubahan Zaman

Di era globalisasi yang semakin cepat, lulusan PTIQ dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Prof. Nasar menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi dan membangun jaringan internasional, tanpa melupakan identitas Al-Qur’an dan budaya Indonesia. “Bawalah nama baik PTIQ ke mana pun Anda berada,” ucapnya dengan penuh semangat.

Adaptasi yang dimaksud mencakup kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi dalam berbagai aspek kehidupan, serta menjalin kerjasama dengan berbagai pihak di tingkat internasional. Dengan demikian, lulusan PTIQ tidak hanya menjadi individu yang berilmu, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu menjawab tantangan zaman.

Peran Alumni PTIQ di Masyarakat

Prof. Nasar juga menyampaikan bahwa para alumni PTIQ telah tersebar di berbagai lapisan masyarakat dan berkontribusi dalam mengabdi kepada masyarakat. “Alumni kami telah bekerja keras untuk mengukir nama baik PTIQ di kancah nasional dan internasional. Usaha ini perlu dilanjutkan untuk memastikan bahwa dedikasi pendahulu kami tidak sia-sia,” jelasnya.

Dia juga menyoroti kebutuhan masyarakat akan alumni PTIQ dalam berbagai peran, seperti imam masjid, muadzin, dan penceramah. “Di Indonesia terdapat sekitar 800 ribu masjid yang membutuhkan imam berkualitas. PTIQ memiliki reputasi terbaik dalam mencetak imam yang kompeten,” tambahnya. Hal ini menegaskan relevansi lulusan PTIQ di berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Peluang Internasional untuk Lulusan PTIQ

Tidak hanya di dalam negeri, lulusan PTIQ juga memiliki peluang besar di kancah internasional. Prof. Nasar menyebutkan bahwa alumni PTIQ banyak dicari oleh berbagai negara, termasuk Arab Saudi, Qatar, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. “Bahkan, kami memiliki kuota 500 orang per tahun untuk melanjutkan studi di universitas terkemuka seperti Harvard dan Al-Azhar,” ungkapnya.

Ketika mahasiswa PTIQ melanjutkan studi di luar negeri, mereka juga memiliki kesempatan untuk berperan sebagai penceramah saat bulan suci. “Ini adalah peluang emas bagi mereka untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta membawa nama baik PTIQ di luar negeri,” tambahnya.

Masa Depan Cerah untuk Lulusan PTIQ

Dalam kesempatan ini, Prof. Nasar juga meminta doa dan dukungan agar PTIQ dapat terus berkembang dan membuka program studi baru. “Kami berharap PTIQ akan terus berinovasi dan memberikan kontribusi terbaik bagi dunia pendidikan dan masyarakat,” ucapnya.

Dengan semangat yang tinggi, para lulusan PTIQ diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Dalam era yang penuh tantangan ini, lulusan PTIQ perlu terus beradaptasi dan berinovasi agar tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Menjaga Identitas dalam Globalisasi

Dalam menghadapi tantangan globalisasi, penting bagi lulusan PTIQ untuk tetap menjaga identitas mereka sebagai insan yang berlandaskan pada nilai-nilai Al-Qur’an. “Identitas ini akan menjadi pondasi kuat bagi mereka dalam membangun karier dan berkontribusi kepada masyarakat,” tutup Prof. Nasar. Dengan demikian, lulusan PTIQ diharapkan akan menjadi pribadi yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga kaya akan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual.

➡️ Baca Juga: Emma Stone Memukau di Oscar 2026 dengan Gaun Hasil Karya Ratusan Jam

➡️ Baca Juga: Fakta Menarik Lee Heeseung: Seorang Idol yang Pernah Menolak 6 Agensi!

Exit mobile version