Menteri PU Perintahkan Pembangunan Irigasi Tersier untuk Mendukung Produktivitas Petani

Pembangunan irigasi yang efektif merupakan kunci untuk meningkatkan produktivitas pertanian, terutama di wilayah yang rentan terhadap kekeringan. Dalam upaya untuk mendukung para petani dan memastikan ketersediaan air yang memadai, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo baru-baru ini memberikan arahan untuk mempercepat pembangunan saluran irigasi tersier. Langkah ini dilakukan setelah terlaksananya infrastruktur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Pentingnya Pembangunan Irigasi Tersier

Dalam pernyataannya, Dody menekankan pentingnya pengelolaan air yang efisien. “Air ini harus kita hemat dan kelola dengan baik. Saya minta agar jaringan tersier segera dibangun, sehingga air tidak terbuang dan bisa menjangkau lebih banyak sawah secara efisien,” tuturnya di Desa Ketintang, Boyolali, pada Minggu (29/3). Pernyataan ini menunjukkan komitmennya untuk menjamin ketersediaan air bagi para petani di daerah tersebut.

Peninjauan langsung terhadap JIAT di Desa Ketintang dilakukan oleh Menteri Dody untuk memastikan bahwa pasokan air bagi lahan pertanian tetap terjaga. Hal ini sangat penting mengingat adanya penurunan signifikan dalam layanan irigasi dari Bendung Boyo, yang sebelumnya mengairi ratusan hektare sawah.

Kondisi Bendung Boyo

Bendung Boyo, yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, saat ini tidak berfungsi secara optimal. Kapasitas layanan bendung yang dulunya mampu mengairi sekitar 700–800 hektare sawah kini menurun drastis menjadi kurang dari 500 hektare. Akibatnya, para petani semakin bergantung pada curah hujan untuk keberlangsungan bercocok tanam mereka.

Dengan adanya masalah ini, pembangunan JIAT menjadi alternatif penting. Kementerian PU berupaya menyediakan sumber air berbasis air tanah, yang diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pertanian, terutama pada musim kemarau yang panjang.

Optimalisasi Distribusi Air

Menteri Dody menekankan bahwa keberadaan sumber air harus diimbangi dengan distribusi yang efisien hingga ke lahan pertanian. “Insya Allah ketahanan pangan kita aman. Yang penting kita siapkan airnya dari sekarang, kita kelola dengan baik, dan kita pastikan distribusinya efisien,” tambahnya. Pernyataan ini mencerminkan harapannya untuk menjamin ketersediaan pangan di masa depan.

Spesifikasi Jaringan Irigasi

JIAT di Desa Ketintang merupakan sistem irigasi berbasis air tanah yang memiliki kedalaman sumur sekitar 120 meter. Sistem ini dilengkapi dengan jaringan pipa dan rumah pompa yang berfungsi untuk mendistribusikan air ke lahan pertanian. Secara teknis, JIAT di Boyolali ini mampu melayani sekitar 20 hektare lahan dengan panjang jaringan pipa mencapai kurang lebih 700 meter dan dilengkapi dengan delapan unit box pembagi air.

Keberadaan sistem ini memberikan jaminan bagi petani untuk memanfaatkan air secara stabil sepanjang tahun, sehingga mereka tidak lagi hanya bergantung pada musim hujan. Hal ini tentu menjadi langkah positif dalam meningkatkan produktivitas pertanian di daerah tersebut.

Dukungan Infrastruktur Pendukung

Selain fokus pada pembangunan jaringan tersier, Kementerian PU juga berencana untuk mempertimbangkan dukungan infrastruktur lain yang diperlukan. Salah satu infrastruktur yang akan diperhatikan adalah jalan usaha tani, yang bertujuan untuk memperlancar akses distribusi hasil pertanian dari lahan ke pasar.

Kementerian PU terus berkomitmen untuk memperluas pembangunan JIAT di berbagai wilayah. Ini merupakan bagian dari strategi untuk menghadapi potensi kekeringan serta menjaga produksi pangan nasional melalui penyediaan infrastruktur air yang andal dan berkelanjutan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan ketahanan pangan di Indonesia dapat terjaga dan produktivitas petani meningkat secara signifikan.

➡️ Baca Juga: Borneo FC vs Persebaya: Saksikan Super League 2025-2026 Malam Ini di Indosiar dan Streaming Online

➡️ Baca Juga: AC 2 PK Cocok untuk Ruangan Berapa? Simak Penjelasan dan Daftar Harganya!

Exit mobile version