Jakarta – Polemik yang melibatkan tantangan membaca ayat Al-Qur’an dengan hadiah minuman keras dalam festival musik The Sounds Project Vol. 9: Beyond Memories telah memicu perdebatan di berbagai kalangan. Insiden ini terjadi pada hari kedua festival yang berlangsung di Ancol, Jakarta Utara, pada tanggal 9 Agustus. Insiden tersebut menjadi viral setelah pemilik akun @aqueer_, yang mengklaim sebagai master of ceremony (MC) dalam acara tersebut, menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial setelah video pelafalan Surah Ad-Duha di booth Newport tersebar luas. Dalam penjelasannya, pria bernama asli Ega mengakui bahwa ia tidak dapat mengendalikan mikrofon saat seorang pengunjung meminta untuk melakukan sayembara membaca Alquran, dan menegaskan bahwa pihak Newport tidak terlibat dalam tindakan tersebut.
Reaksi Sahil Mulachela dan Pertanyaan Kritis
Penyiar radio dan podcaster Sahil Mulachela, yang memiliki pengalaman lebih dari dua dekade, tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Ia mempertanyakan bagaimana mikrofon bisa diambil alih oleh pengunjung tanpa adanya intervensi. Melalui akun media sosialnya, Sahil menulis, “Ega, saya Professional MC udah dari tahun 2006. Pertanyaan saya, kok bisa ada ‘orang lain’ yang tiba-tiba ambil alih MIC MC lalu dibiarin gitu aja?” Pernyataan ini menunjukkan keprihatinan terhadap tanggung jawab seorang MC dalam mengendalikan jalannya acara agar tetap sesuai dengan konsep yang telah ditetapkan.
Sahil melanjutkan dengan menegaskan bahwa peran MC bukan hanya sekadar memandu, tetapi juga mengawasi agar program berjalan sesuai dengan rundown. “Bukannya MC tugasnya memandu & mengontrol acara sesuai rundown? Kalo ternyata dia bikin gimmick diluar brief dari brand, kok ga anda ambil alih lagi?” tulisnya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang MC harus mampu mengambil tindakan tegas ketika situasi mulai melenceng dari rencana yang telah disusun.
Peran Liaison Officer dan Penanggung Jawab Acara
Tidak hanya menyoroti peran MC, Sahil juga mempertanyakan keberadaan liaison officer (LO) dan penanggung jawab acara. Dalam pandangannya, kedua pihak ini seharusnya dapat melakukan intervensi ketika kejadian yang tidak pantas seperti itu berlangsung. “Lalu LO MC-nya kemana? Penanggung jawab acaranya kemana? Kok ga melakukan intervensi pada saat ini terjadi? Apakah ini pembiaran?” tambahnya. Kritikan ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam menjalankan acara agar tidak terjadi pelanggaran yang merugikan, terutama dalam konteks keagamaan.
Di akhir komentarnya, Sahil menyampaikan penolakannya terhadap penggunaan ayat suci dalam konteks yang tidak pantas. “Ayat-ayat suci kami TIDAK PANTAS DIGANJAR dengan MINUMAN BERALKOHOL!” tegasnya, menandakan bahwa isu ini bukan hanya soal teknis acara, tetapi juga menyentuh aspek spiritual yang sangat sensitif bagi masyarakat.
Langkah Hukum dan Tanggapan Publik
Kontroversi ini kini telah memasuki ranah hukum, dengan pihak kepolisian menangkap dua orang yang diduga terlibat dalam insiden tersebut, yakni perempuan berinisial R dan laki-laki berinisial E. Penangkapan ini terjadi setelah Tim Hukum Muslim melaporkan dugaan penistaan agama kepada Polda Metro Jaya pada tanggal 11 Agustus. Dalam laporan tersebut, terdapat lima pihak yang dilaporkan, termasuk penyelenggara acara, produsen Newport, dua MC yang terlibat, serta seorang pengunjung yang mengikuti tantangan membaca Surah Ad-Duha.
Awal Mula Kontroversi
Kasus ini bermula dari unggahan akun Threads @jarrkojarr yang mengaku menyaksikan tantangan membaca Surah Ad-Duha dengan hadiah sebotol minuman keras di booth Newport. Saat itu, ia sedang menunggu penampilan Hindia di festival. Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan mendapatkan kecaman dari berbagai pihak, karena membawa ayat Al-Qur’an ke dalam konteks promosi minuman beralkohol dianggap sangat tidak pantas.
Reaksi publik pun beragam, dengan banyak yang menyuarakan keberatan terhadap tindakan tersebut. Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), hingga Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turut memberikan tanggapan, menekankan bahwa insiden ini mencoreng nilai-nilai agama.
Pernyataan dari Penyelenggara Acara dan Newport
Sebagai respons terhadap kontroversi ini, promotor The Sounds Project telah mengeluarkan pernyataan permintaan maaf dan mengecam penggunaan elemen keagamaan dalam aktivitas tersebut. Mereka berjanji untuk menegur pihak sponsor, mengidentifikasi individu yang terlibat, serta melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Ini menunjukkan keseriusan mereka dalam menangani situasi yang telah menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
Di sisi lain, Newport juga memberikan klarifikasi bahwa tantangan tersebut bukanlah bagian dari strategi promosi mereka. Mereka menyebutkan bahwa aktivitas tersebut muncul secara spontan dari pengunjung, dan mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan di lapangan. “Kami meminta maaf kepada masyarakat, khususnya umat Muslim dan tokoh agama yang merasa terganggu atau terluka akibat kejadian ini,” ungkap pernyataan resmi mereka.
Pentingnya Pengawasan dan Etika dalam Acara
Situasi ini menyoroti pentingnya pengawasan yang ketat dalam setiap acara, terutama yang melibatkan elemen sensitif seperti agama. Setiap individu yang terlibat, mulai dari MC, LO, hingga penanggung jawab acara, harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang etika dan tanggung jawab mereka. Hal ini bukan hanya untuk menjaga citra acara, tetapi juga untuk menghormati nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.
Dalam dunia event organizer, insiden seperti ini seharusnya menjadi pelajaran berharga. Pengawasan yang baik dan komunikasi yang efektif antara semua pihak yang terlibat sangatlah penting untuk menghindari kesalahan yang dapat berakibat fatal. Setiap elemen dalam acara harus bekerja sama untuk menciptakan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menghormati nilai-nilai yang ada.
Kesimpulan
Polemik mengenai tantangan membaca ayat Al-Qur’an di festival The Sounds Project menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menyelenggarakan acara. Tindakan yang dianggap merendahkan nilai-nilai keagamaan tidak hanya merugikan reputasi penyelenggara, tetapi juga bisa memicu reaksi yang lebih luas dari masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu yang terlibat dalam dunia hiburan dan acara untuk selalu mengedepankan etika dan tanggung jawab.
➡️ Baca Juga: Manfaatkan Posko Mudik di Jalur Pantura untuk Pengguna Federal Oil dengan Optimal
➡️ Baca Juga: 571 KK Warga Sajau Hilir Manfaatkan Jembatan Garuda untuk Akses Kebun dan Sekolah
