Teuku Rifnu Wikana Ditemani Psikolog dalam Peran Sebagai Predator Anak di Film Memburu Pemangsa

Jakarta – Teuku Rifnu Wikana, seorang aktor berbakat, baru-baru ini berbagi pengalaman mendalam dan menantang saat syuting film horor-crime-action berjudul Memburu Pemangsa. Dalam proyek ini, yang disutradarai oleh Umay Shahab dan diproduksi oleh Sinemaku Pictures, Wika memerankan karakter yang sangat kelam dan kompleks sebagai predator anak-anak. Film ini tidak hanya menuntut kemampuan fisik yang luar biasa, tetapi juga pendalaman psikologis yang mendalam, yang membuat proses syuting menjadi salah satu yang paling berat dalam kariernya.

Mendalami Karakter Predator Anak

Peran yang diemban Teuku Rifnu Wikana dalam Memburu Pemangsa menggambarkan sosok jahat yang terlibat dalam penculikan anak-anak. Karakter ini berkolaborasi dengan kekuatan gelap untuk menghidupkan kembali putrinya yang telah tiada, dengan cara yang sangat keji. Dalam menjalani peran ini, Wika harus menghadapi tantangan fisik yang tidak sedikit. Dia mengalami beberapa cedera saat syuting, termasuk benturan yang membuatnya harus menjalani pemeriksaan medis yang menyakitkan.

Tantangan Fisik dan Psikologis

“Ini adalah syuting terberat sepanjang karier saya. Beratnya proses ini membuat saya beberapa kali mengalami cedera,” ungkap Wika saat diwawancara di Epicentrum XXI, Jakarta. Cedera yang dialaminya bervariasi, mulai dari benturan di kepala hingga masalah pada kaki yang memerlukan pemindaian medis. Namun, tantangan yang dihadapi tidak hanya bersifat fisik. Sebagai seorang ayah, Wika merasakan dampak psikologis yang mendalam ketika memerankan karakter yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral yang ia pegang.

“Memainkan karakter ini sangat mengganggu psikologis saya, terutama karena saya juga seorang ayah,” tambahnya. Wika merasa tertekan dengan karakter yang harus dia perankan, yang tampaknya jauh dari jati dirinya sebagai orang tua yang bertanggung jawab.

Peran Psikolog dalam Proses Syuting

Untuk membantu Wika dalam mendalami karakter tersebut, tim produksi menghadirkan seorang psikolog yang mendampinginya selama proses syuting. Melalui beberapa sesi konsultasi, Wika berusaha memahami batas antara dirinya sebagai aktor dan karakter yang harus dia perankan. “Psikolog itu mencoba untuk memahami tujuan saya dalam peran ini dan membantu saya dalam proses eksplorasi karakter,” jelasnya.

Wika menambahkan bahwa psikolog tersebut hadir untuk membantunya melepaskan ketakutan dan kecemasan yang muncul selama syuting. “Kadang-kadang, psikolog itu melihat saya dan bisa merasakan ketakutan yang saya alami, sehingga dia merasa perlu untuk beristirahat sejenak,” katanya. Pada akhirnya, Wika pun mengandalkan doa sebagai pegangan utama dalam menjalani peran yang berat tersebut.

Harapan Melalui Karakter

Wika berharap bahwa karakternya dalam film ini tidak hanya diingat sebagai sosok antagonis, tetapi juga mampu menyampaikan pesan penting kepada masyarakat tentang perlunya melindungi anak-anak. “Saya ingin karakter ini menjadi pengingat bagi penonton, agar mereka lebih waspada dan peduli terhadap keselamatan anak-anak mereka,” ungkapnya. Wika merasa bahwa perannya ini bisa menjadi sarana edukasi yang membawa kesadaran akan pentingnya perlindungan anak dalam masyarakat.

Ethical Filmmaking dalam Proses Produksi

Di tengah tema cerita yang berat dan melibatkan anak-anak, Umay Shahab, sebagai sutradara, menekankan pentingnya penerapan ethical filmmaking selama proses produksi Memburu Pemangsa. Umay menyadari bahwa aspek keamanan dan kenyamanan seluruh anggota tim dan aktor, terutama anak-anak, menjadi prioritas utama.

“Kami berkomitmen untuk menjaga agar semua orang di lokasi syuting merasa aman dan nyaman,” ujar Umay. Kesadaran akan pentingnya ethical filmmaking menjadi bagian integral dalam menjaga kualitas produksi film, khususnya ketika melibatkan materi yang sensitif dan kompleks.

Sinopsis Film Memburu Pemangsa

Memburu Pemangsa mengisahkan tentang hilangnya empat anak dari suatu daerah, yang kemudian ditemukan dalam keadaan yang tragis. Di tengah penyelidikan yang berlangsung, waktu terus berjalan dan anak-anak lain masih dalam ancaman. Agnes, yang diperankan oleh Laura Basuki, adalah pemimpin redaksi sebuah media berita yang sebelumnya menolak keberadaan kekuatan supernatural sejak kematian putrinya. Namun, pandangannya berubah drastis setelah ia menyaksikan penculikan seorang anak di depan matanya.

Perjalanan Investigasi yang Berbahaya

Agnes bersama tiga jurnalis perempuan, Cia, Brina, dan Anya, serta seorang polisi bernama Petra, berusaha untuk mengungkap kasus kelam ini. Dalam perjalanan investigasi mereka, keempatnya dihadapkan pada pilihan sulit: mundur untuk menyelamatkan diri atau mengambil risiko demi menyelamatkan anak-anak yang tak berdaya. Film ini mengajak penonton untuk merenungkan tentang moralitas, tanggung jawab, dan peran kita dalam melindungi generasi mendatang.

Pentingnya Kesadaran Sosial

Melalui Memburu Pemangsa, Teuku Rifnu Wikana dan tim produksi berharap dapat menyampaikan pesan penting tentang perlindungan anak dan kesadaran sosial. Film ini tidak hanya menawarkan ketegangan dan teror, tetapi juga membuka mata penonton terhadap realitas yang sering kali terabaikan dalam masyarakat. Dengan karakter dan cerita yang kuat, film ini diharapkan dapat memberikan dampak yang mendalam bagi setiap penonton.

Wika menekankan bahwa dalam setiap adegan dan penggambaran karakter, ada tanggung jawab besar yang diemban oleh para aktor dan tim produksi. “Kami ingin memastikan bahwa pesan yang kami sampaikan bisa berkontribusi positif bagi masyarakat,” tuturnya. Dengan harapan bahwa film ini dapat menjadi alat untuk mengedukasi dan menyebarkan kesadaran akan pentingnya perlindungan anak, Memburu Pemangsa siap menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak hanya menghibur tetapi juga menggugah pemikiran.

➡️ Baca Juga: Katalog Promo Alfamart 14–15 Maret 2026: Harga Minyak Goreng Mulai Rp29 Ribu, Diskon Biskuit Lebaran!

➡️ Baca Juga: Dapatkan Kode Diskon Corsair dan Hemat Hingga 50% untuk Upgrade PC Gaming Anda

Exit mobile version