slot depo 10k slot depo 10k
Pendidikan

5 Jurusan Kuliah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi, Manajemen Memimpin Daftar

Gelar sarjana sering kali dianggap sebagai kunci untuk memasuki dunia kerja. Namun, kenyataannya tidak selalu sejalan dengan harapan tersebut. Data terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan bahwa beberapa jurusan kuliah berkontribusi besar terhadap angka pengangguran di kalangan lulusan S1. Dalam Labor Market Brief LPEM FEB UI edisi Juli 2026, terlihat bahwa lulusan Manajemen menduduki posisi teratas dalam daftar pengangguran yang memiliki pendidikan minimal S1, dengan proporsi mencapai 10,3 persen dari total penganggur di kategori ini. Di bawah Manajemen, terdapat empat jurusan lain yang juga menunjukkan angka pengangguran signifikan, yaitu Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi.

Jurusan Kuliah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi

Berikut adalah lima jurusan S1 yang menunjukkan proporsi pengangguran terbesar di Indonesia:

  • Manajemen: 10,3 persen
  • Hukum: 9,0 persen
  • Ekonomi: 8,7 persen
  • Pendidikan: 7,1 persen
  • Akuntansi: 5,1 persen

Secara keseluruhan, kelima jurusan ini menyumbang hampir 40 persen dari total pengangguran berpendidikan minimal S1 di tanah air. Meski demikian, LPEM FEB UI menekankan bahwa tingginya angka lulusan Manajemen yang menganggur tidak serta merta menggambarkan bahwa jurusan tersebut memiliki prospek kerja yang buruk. Faktanya, Manajemen adalah bidang studi yang sangat luas dan dapat diakses oleh banyak perguruan tinggi.

Kompetisi di Pasar Kerja

Lulusan Manajemen memiliki peluang untuk memasuki berbagai sektor, termasuk administrasi, pemasaran, perbankan, keuangan, sumber daya manusia, dan pengelolaan usaha. Namun, dengan tingginya jumlah lulusan yang memasuki pasar kerja, angka pengangguran yang tinggi di antara mereka menjadi lebih terlihat. Persoalan ini diperparah oleh kenyataan bahwa lulusan Manajemen tidak hanya bersaing dengan sesama lulusan Manajemen, tetapi juga harus menghadapi persaingan dari lulusan jurusan lain, seperti Ekonomi, Hukum, dan Komunikasi.

Peran Jurusan Hukum dan Ekonomi

Sementara itu, lulusan Hukum menyumbang 9 persen dari total penganggur berpendidikan minimal S1. Meskipun jurusan Hukum memiliki jalur karir yang lebih terarah, tidak semua lulusan Hukum bekerja di bidang yang relevan dengan studi mereka. Banyak yang harus memasuki pasar kerja umum dan bersaing untuk posisi di berbagai sektor, seperti perbankan, pemerintahan, dan konsultasi.

Hal serupa juga terjadi pada lulusan Ekonomi, yang menyumbang 8,7 persen dari angka pengangguran. Sektor Pendidikan, dengan proporsi 7,1 persen, menunjukkan tantangan tersendiri. Menurut LPEM FEB UI, hal ini dapat dipengaruhi oleh pola rekrutmen di bidang pendidikan. Faktor-faktor seperti ketersediaan formasi guru, kebutuhan sekolah yang berbeda di setiap wilayah, dan persyaratan profesi yang berlaku berkontribusi terhadap situasi ini.

Data dan Analisis dari LPEM FEB UI

Penting untuk dicatat bahwa data yang dirilis oleh LPEM FEB UI menunjukkan proporsi lulusan dari masing-masing jurusan yang ditemukan di antara penganggur S1, bukan tingkat pengangguran dari setiap jurusan. Dengan kata lain, angka 10,3 persen pada Manajemen tidak berarti bahwa seluruh lulusan Manajemen menganggur. Untuk mengetahui jurusan mana yang memiliki risiko pengangguran tertinggi, perlu dilakukan perbandingan antara jumlah penganggur dari suatu jurusan dengan total angkatan kerja lulusan jurusan tersebut.

Jurusan yang menghasilkan lulusan dalam jumlah besar secara alami akan memiliki peluang lebih tinggi untuk menyumbang angka pengangguran yang lebih banyak. Temuan ini muncul di tengah peningkatan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di kalangan lulusan S1. LPEM FEB UI mencatat TPT kelompok ini mengalami penurunan dari 5,98 persen pada 2021 menjadi 4,80 persen pada 2022. Namun, angka tersebut kembali meningkat menjadi 5,18 persen pada 2023, 5,25 persen pada 2024, dan 5,39 persen pada 2025.

Dampak Pertumbuhan Lulusan Perguruan Tinggi

Kenaikan angka pengangguran ini menjadi sinyal bahwa pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan jumlah lowongan kerja yang memerlukan tenaga kerja dengan pendidikan tinggi. Jika jumlah sarjana tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan ketersediaan pekerjaan di sektor profesional, teknis, dan manajerial, persaingan di antara lulusan akan semakin ketat.

Fenomena yang lebih kompleks dihadapi oleh lulusan perguruan tinggi. Selain mereka yang belum mendapatkan pekerjaan, terdapat sekitar 8,01 juta lulusan S1 yang terpaksa bekerja di posisi yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikan mereka. Situasi ini dikenal sebagai overeducation, di mana terdapat ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan yang dijalani.

Tantangan dalam Dunia Kerja

Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh lulusan perguruan tinggi sangat beragam. Dalam satu sisi, banyak yang belum mendapatkan pekerjaan, sementara di sisi lain, ada pula yang sudah bekerja namun tidak sepenuhnya memanfaatkan kompetensi dan pendidikan yang mereka miliki. Oleh karena itu, persoalan mengenai jurusan-jurusan dengan angka pengangguran tertinggi tidak hanya bisa dipertanggungjawabkan kepada pilihan mahasiswa semata. Ada tantangan yang lebih luas yang perlu ditangani, yaitu bagaimana perguruan tinggi dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Selain itu, penting juga untuk mempertimbangkan bagaimana perekonomian dapat menciptakan lapangan kerja yang cukup untuk menyerap lulusan berpendidikan tinggi. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan dapat tercipta keselarasan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan pasar kerja yang sebenarnya.

➡️ Baca Juga: Menelusuri Keberagaman Wisata UMKM di Pasar Pasaran Solo yang Menarik dan Unik

➡️ Baca Juga: Film Gundam Hathaway Luncurkan AMV Lagu Penutup “Sweet Child O’ Mine” dari Guns N’ Roses

Related Articles

Back to top button