Pakar ITS Jelaskan Signifikansi Ketahanan Energi Nasional untuk Strategi Bisnis yang Efektif

Saat ini, ketegangan geopolitik yang meningkat di berbagai lokasi pemasok energi di dunia telah memicu kekhawatiran mendalam mengenai pasokan energi nasional Indonesia. Krisis energi yang melanda banyak negara menjadi isu yang sangat penting, dan masyarakat Indonesia semakin mempertanyakan ketersediaan energi di masa depan. Menyikapi hal ini, Arman Hakim Nasution, seorang pakar strategi bisnis dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), memberikan beberapa usulan kebijakan yang perlu dipertimbangkan dan diterapkan oleh pemerintah terkait ketahanan energi nasional.
Geopolitik dan Dampaknya pada Pasokan Energi
Arman menjelaskan bahwa situasi global saat ini, terutama konflik yang berkepanjangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, berdampak langsung pada pasokan energi. Jalur-jalur strategis, seperti Selat Hormuz, yang merupakan rute utama bagi perdagangan minyak dunia, kini terancam. “Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), yang tentunya akan berdampak pada seluruh dunia,” ujarnya.
Ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidak hanya memengaruhi pasokan energi, tetapi juga berimbas pada sektor ekonomi lainnya. Kenaikan harga BBM dapat menyebabkan lonjakan harga barang-barang industri, seperti plastik dan pupuk. “Ekonomi adalah sistem yang saling terhubung; jika sektor energi terganggu, sektor lainnya pun akan merasakan dampaknya,” imbuhnya.
Ketergantungan Energi Impor Indonesia
Walaupun Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, negara ini masih tergolong sebagai pengimpor energi yang signifikan. Sekitar 49,5 persen kebutuhan BBM dan 80 hingga 84 persen dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) Indonesia dipenuhi melalui impor. Hal ini terjadi karena tingginya permintaan energi yang tidak sebanding dengan kapasitas produksi dalam negeri. “Keadaan ini sangat mengkhawatirkan, terutama dalam situasi geopolitik yang tidak stabil,” ungkap Arman.
Lebih lanjut, dia menyatakan bahwa ketergantungan pada energi impor dapat memicu masalah lain yang akan berdampak pada stabilitas ekonomi nasional. Dalam situasi krisis, gejolak di sektor energi dapat memicu tekanan sosial yang besar. Masyarakat yang semakin kesulitan memenuhi kebutuhan energi dan bahan pokok akan menjadi tantangan utama dalam menjaga kedaulatan negara.
Penyebab Ketidakstabilan Energi
Arman, yang merupakan alumnus doktoral dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan bahwa persoalan ini tidak hanya disebabkan oleh ketidakpastian pasokan energi dari luar negeri. Menurutnya, masalah ini juga terkait dengan lemahnya kemampuan Indonesia dalam mengolah sumber daya energi yang ada. “Sumber daya alam kita sebenarnya berlimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga kita masih bergantung pada negara lain,” jelasnya.
Peluang untuk Kemandirian Energi Nasional
Dia menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk berusaha keras dalam mengolah sumber daya alam yang dimiliki guna mencapai kemandirian energi. Potensi Indonesia sebagai produsen energi geothermal terbesar kedua di dunia merupakan aset yang harus dikembangkan. “Kita perlu segera mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan sumber daya ini demi mendukung ketahanan energi nasional,” tambahnya.
- Pengembangan teknologi energi terbarukan
- Peningkatan investasi di sektor energi
- Optimalisasi sumber daya alam yang ada
- Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat
- Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai hemat energi
Strategi untuk Menciptakan Cadangan Energi
Sebagai langkah awal, Arman mengusulkan agar setiap daerah memanfaatkan karakteristik khasnya untuk menciptakan cadangan energi. Misalnya, daerah yang memiliki suhu tinggi dapat memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi alternatif. Di sisi lain, wilayah yang memiliki potensi peternakan dapat mengolah limbah menjadi biogas.
Pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam menciptakan ketahanan energi nasional tidak bisa diabaikan. Arman menekankan bahwa masyarakat, industri, dan pemerintah harus bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut. “Masyarakat perlu berhemat dalam penggunaan energi, industri harus mendorong inovasi, dan pemerintah harus aktif dalam mengkaji kebijakan yang mendukung kemandirian energi bangsa,” ujarnya.
Peran Pendidikan dalam Mendorong Kemandirian Energi
Semangat juang yang ditunjukkan oleh institusi pendidikan seperti ITS menunjukkan komitmen mereka dalam mendukung kemandirian energi di Indonesia. Ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin ke-7 mengenai Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-9 terkait dengan Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan ketahanan energi nasional tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat dan industri. Semua pihak perlu bersinergi untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dan mandiri dalam hal energi.
➡️ Baca Juga: Optimalkan Mode Pengembang Android untuk Meningkatkan Kecepatan dan Responsivitas Animasi
➡️ Baca Juga: Makan Bergizi Gratis Prasmanan di SMPN 126 Jakarta untuk Kesehatan Siswa




