14 Pabrik Mobil Listrik Beroperasi di RI dengan Kapasitas Produksi EV Mencapai 400 Ribu Unit

Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate), Setia Diarta, menyatakan bahwa lembaga ini terus berupaya mempercepat pengembangan ekosistem industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi industri yang bertujuan menuju ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan meningkatkan daya saing sektor manufaktur nasional.
Peran Strategis Industri Otomotif
Industri otomotif di Indonesia merupakan salah satu sektor krusial yang berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Setia menekankan pentingnya memastikan bahwa transisi menuju kendaraan listrik berjalan dengan baik dan memberikan manfaat maksimal bagi industri lokal. Penegasan ini disampaikan dalam sebuah diskusi bertema “Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Genjot Adopsi Electric Vehicle” yang berlangsung di Jakarta.
Data Perkembangan Industri Kendaraan Listrik
Berdasarkan informasi dari Kementerian Perindustrian, perkembangan industri kendaraan listrik di Tanah Air menunjukkan kemajuan yang signifikan. Saat ini, terdapat 14 pabrik mobil listrik yang beroperasi dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 409.860 unit. Selain itu, ada 68 perusahaan yang memproduksi sepeda motor listrik dengan kapasitas 2,51 juta unit per tahun, serta sembilan perusahaan yang merakit bus listrik dengan kapasitas 4.100 unit per tahun. Total investasi dalam sektor ini telah mencapai Rp25,674 triliun.
Populasi Kendaraan Listrik di Indonesia
Hingga Maret 2026, diperkirakan populasi kendaraan listrik di Indonesia akan mencapai 358.205 unit. Rincian jumlah kendaraan tersebut mencakup 236.451 sepeda motor listrik, 119.638 mobil penumpang listrik, 798 bus listrik, dan 537 kendaraan komersial listrik. Pertumbuhan ini mencerminkan tren positif dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) yang mencapai lebih dari 140% dalam lima tahun terakhir.
Perubahan Preferensi Konsumen
Setia juga mencatat adanya perubahan dalam preferensi konsumen yang kini lebih memilih kendaraan yang hemat energi dan ramah lingkungan. Hal ini menjadi sinyal positif bagi transformasi di sektor otomotif nasional menuju kendaraan listrik.
Pangsa Pasar Kendaraan Berbasis Listrik
Proyeksi untuk tahun 2025 menunjukkan bahwa pangsa pasar kendaraan roda empat berbasis listrik di Indonesia akan mencapai 21,71%. Dari angka tersebut, Battery Electric Vehicle (BEV) berkontribusi sebesar 12,93%, Hybrid Electric Vehicle (HEV) 8,13%, dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) 0,65%. Sementara porsi produksi kendaraan berbasis listrik diprediksi mencapai 11,1% dari total produksi kendaraan roda empat nasional.
Optimalisasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN)
Pemerintah menekankan pentingnya optimalisasi TKDN sebagai fokus utama dalam menarik investasi di sektor kendaraan listrik. Berdasarkan roadmap yang ada, batas minimal TKDN untuk KBLBB ditetapkan sebesar 40% hingga tahun 2026, kemudian meningkat menjadi 60% pada periode 2027-2029, dan 80% mulai tahun 2030.
Dukungan dan Pengembangan Rantai Pasok
Setia menegaskan bahwa pemerintah ingin agar investasi di sektor kendaraan listrik tidak hanya berhenti pada tahap perakitan, tetapi juga berkembang ke dalam pendalaman struktur industri. Hal ini mencakup pengembangan baterai, komponen utama, serta rantai pasok yang ada di dalam negeri. Indonesia memiliki potensi kuat dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir, mulai dari pemurnian nikel, produksi sel baterai, hingga fasilitas daur ulang baterai.
Prospek Masa Depan Kendaraan Listrik di Indonesia
Kementerian Perindustrian optimis bahwa dengan dukungan kebijakan yang konsisten, peningkatan permintaan domestik, dan masuknya investasi baru, Indonesia akan semakin kokoh sebagai pusat produksi kendaraan listrik di kawasan, sekaligus menjadi basis ekspor global.
Pertumbuhan Penjualan Kendaraan Listrik
Kendaraan listrik (electric vehicle/EV) diprediksi akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi sektor otomotif nasional, terutama mengingat tingginya penjualan segmen ini sejak tahun lalu yang diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2026. Perubahan preferensi konsumen yang cenderung lebih memilih kendaraan hemat energi dan lingkungan menjadi faktor pendorong pertumbuhan ini.
Faktor Pendorong Adopsi Kendaraan Listrik
Penjualan EV dipastikan akan meningkat seiring dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Situasi ini semakin diperkuat oleh semakin kecilnya selisih harga antara kendaraan listrik dan kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).
Mengatasi Kecemasan Jarak Tempuh
Faktor lain yang mendorong adopsi EV adalah peningkatan jarak tempuh kendaraan listrik yang kini dapat mencapai 600 kilometer saat baterai terisi penuh, mengurangi kecemasan jarak (range anxiety) yang sering dialami oleh calon pengguna EV.
Tren Perubahan Pasar Kendaraan
Booming kendaraan listrik di Indonesia terlihat jelas dari penurunan kontribusi mobil ICE terhadap total pasar. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa porsi kendaraan bermesin pembakaran internal turun dari 99,6% pada tahun 2021 menjadi 78,2% pada tahun 2025.
➡️ Baca Juga: Tarif Tol Semarang-Batang Meningkat Menjelang Lebaran: Fakta dan Analisis
➡️ Baca Juga: Meningkatkan Kepercayaan Buyer dengan Foto Produk 360 Derajat yang Efektif




