Tanggap Darurat Karhutla Kalbar Selesai, Proses Perpanjangan Masih Berlangsung

Status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat resmi berakhir pada Minggu, 6 September 2026. Meskipun demikian, pemerintah provinsi masih melanjutkan proses perpanjangan status tersebut karena kondisi di lapangan dinilai belum sepenuhnya pulih. Daniel, Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, menyatakan bahwa masa tanggap darurat awalnya ditetapkan selama 14 hari. Setelah periode tersebut berakhir, upaya perpanjangan dilakukan untuk memastikan penanganan karhutla tetap berlanjut. “Memang status tanggap darurat telah berakhir kemarin, tetapi kondisi di Kalimantan Barat masih terpengaruh karhutla,” ungkap Daniel.
Proses Perpanjangan Tanggap Darurat
Dalam pandangan Daniel, pengajuan perpanjangan status tanggap darurat sangat penting mengingat dampak karhutla yang masih dirasakan di berbagai wilayah. “Kondisi di Kalimantan Barat belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu, kami sedang memproses perpanjangan,” tambahnya. Ia berharap bahwa proses administrasi untuk perpanjangan ini dapat segera diselesaikan dan Surat Keputusan (SK) perpanjangan dapat diterima dalam waktu dekat. “Kami optimis SK perpanjangan ini bisa kami terima dalam satu atau dua hari ke depan,” jelasnya.
Tahap Penanganan Kebakaran
Saat proses perpanjangan berlangsung, penanganan karhutla di beberapa wilayah Kalimantan Barat mulai mengalami perubahan. Daniel menginformasikan bahwa situasi secara umum menunjukkan perbaikan, dengan penurunan sebaran titik api yang signifikan. Beberapa daerah yang sebelumnya mengalami kebakaran hebat, seperti Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, dan Mempawah, kini beralih dari operasi pemadaman menjadi operasi pendinginan. Ini dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa yang dapat memicu kebakaran kembali. “Operasi pendinginan bertujuan untuk memastikan bahwa semua api padam, sehingga tidak ada risiko kebakaran muncul kembali,” tegasnya.
- Beberapa daerah yang mengalami perbaikan kondisi:
- Ketapang
- Kayong Utara
- Kubu Raya
- Mempawah
Metode Operasi Pendinginan
Operasi pendinginan dilakukan oleh satuan tugas darat dengan menyirami titik-titik api atau bara yang masih ada. Di samping itu, satuan tugas udara dapat melakukan waterbombing, jika kondisi cuaca dan jarak pandang mendukung. Namun, dalam beberapa hari terakhir, operasi waterbombing mengalami kendala akibat jarak pandang yang buruk. Oleh karena itu, upaya pendinginan lebih dioptimalkan oleh tim darat di berbagai lokasi yang terdampak.
Kendala dalam Penanganan Karhutla
Walaupun penanganan karhutla menunjukkan kemajuan, tim di lapangan masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan sumber air yang sangat diperlukan untuk mendukung operasi darat. Daniel menyatakan bahwa hujan alami dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama menjadi faktor paling efektif dalam mengakhiri karhutla. Selain itu, pemerintah juga terus berupaya melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di daerah yang memiliki potensi pertumbuhan awan konvektif. Namun, pelaksanaan OMC bersifat tentatif dan sangat tergantung pada kondisi atmosfer.
Peningkatan Upaya Penanganan oleh BNPB
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa penanganan karhutla di Kalimantan Barat terus diperkuat melalui berbagai metode, termasuk operasi darat, patroli udara, waterbombing, dan OMC. Beberapa wilayah yang menjadi fokus perhatian dalam penanganan ini antara lain:
- Kubu Raya
- Mempawah
- Sanggau
- Kayong Utara
- Melawi
- Sintang
- Ketapang
- Landak
Untuk menangani kebakaran, pemerintah masih mengandalkan operasi darat, terutama di kawasan gambut yang rawan terbakar. BNPB mencatat bahwa sampai awal September, satuan tugas darat telah berhasil memadamkan 429,90 hektare dari total estimasi 802,17 hektare lahan yang terbakar di Kalbar.
Operasi Modifikasi Cuaca untuk Mempercepat Pemulihan
Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH/BPLH) masih melanjutkan pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat pada 3-14 September 2026 dengan dukungan BNPB. Upaya ini bertujuan untuk membantu pembasahan lahan gambut, mendukung upaya pemadaman darat, serta mengurangi risiko kebakaran yang mungkin muncul kembali. Dengan berbagai langkah ini, diharapkan kondisi di Kalimantan Barat dapat segera pulih dan ancaman karhutla dapat diminimalkan.
Secara keseluruhan, meskipun status tanggap darurat karhutla di Kalimantan Barat telah berakhir, proses perpanjangan tetap menjadi langkah yang diperlukan untuk menghadapi tantangan yang masih ada. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya menjadi kunci dalam mengatasi masalah karhutla yang berulang dan mendukung pemulihan lingkungan di kawasan ini.
➡️ Baca Juga: Mantan Presiden Sekutu Utama Aung San Suu Kyi Dibebaskan oleh Junta Myanmar
➡️ Baca Juga: Arsenal Tunjukkan Mental Baja dengan Kemenangan atas Chelsea di Liga Inggris




