AI Meningkatkan Ancaman Siber, CISO Indonesia Harus Sesuaikan Strategi Pertahanan

Jakarta – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia bisnis menawarkan berbagai peluang untuk meningkatkan produktivitas. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat tantangan signifikan yang muncul dalam bentuk ancaman siber yang semakin kompleks. Penyerang kini dapat memanfaatkan teknologi AI untuk mengeksploitasi celah keamanan dengan lebih efisien dan cepat. Danang Wijanarko, Head of Solutions Engineering di F5 Indonesia, mengungkapkan bahwa kesadaran akan perubahan ini masih perlu ditingkatkan di kalangan banyak perusahaan di Indonesia. Dalam diskusi dengan berbagai pelaku industri, ia menemukan bahwa pola pikir yang usang dapat membuat organisasi terlambat dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang.
Perubahan Lanskap Ancaman Siber
Ancaman siber tidak lagi terbatas pada metode konvensional. Dengan pengintegrasian AI, penyerang kini memiliki alat yang lebih kuat untuk mencari dan mengeksploitasi kerentanan. Salah satu tantangan utama yang dihadapi perusahaan adalah menyesuaikan sistem keamanan mereka agar mampu mengikuti kecepatan serangan yang semakin meningkat. Ini bukan hanya tentang memiliki sistem keamanan yang ada, melainkan tentang seberapa cepat dan efektif sistem tersebut dapat merespons ketika ancaman baru muncul.
Penurunan Waktu Respon
Salah satu metrik penting yang perlu diperhatikan adalah Time to Exploit (TTE), yang mengukur lamanya waktu yang dibutuhkan penyerang untuk memanfaatkan celah keamanan. Dalam konteks zero-day, di mana kerentanan belum diketahui atau belum tersedia perbaikan dari pengembang, situasinya menjadi lebih rumit. Danang menekankan bahwa kemajuan dalam teknologi AI membuat pencarian kerentanan menjadi lebih mudah bagi penyerang, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki keterampilan teknis yang mendalam.
- Asumsi bahwa masih ada banyak waktu untuk melakukan patch sangat berbahaya.
- Kebiasaan menunda penanganan kerentanan berisiko menengah dapat memberikan celah bagi penyerang.
- Ketergantungan pada pengujian manual yang dilakukan secara berkala tidak lagi memadai.
- Pola pikir “We Have Time to Patch” harus diubah menjadi proaktif.
- Organisasi perlu memahami sepenuhnya konsep dan risiko terkait zero-day.
Risiko dari Penggunaan AI di Dalam Perusahaan
Tidak hanya penyerang yang memanfaatkan AI untuk menyerang, tetapi penggunaan AI oleh karyawan juga dapat menimbulkan risiko keamanan. Ketika karyawan menggunakan layanan AI tanpa pemahaman yang tepat tentang pengelolaan data, informasi sensitif perusahaan dapat terekspos. Danang menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan seorang CISO dari perusahaan besar yang mengizinkan penggunaan layanan AI tanpa melakukan asesmen yang menyeluruh.
Hasil asesmen menunjukkan bahwa ada potensi oversharing yang dapat menyebabkan kebocoran data. “Keputusan ini mencerminkan masalah mendasar yang harus dihadapi perusahaan: mereka perlu memahami dengan jelas jenis layanan yang digunakan, bagaimana pola penggunaannya, serta data sensitif apa saja yang masuk ke dalam sistem AI,” jelas Danang. Untuk itu, pendekatan keamanan yang efektif harus mencakup pemahaman mendalam mengenai layanan AI yang digunakan karyawan.
Pentingnya Visibility dalam Era AI
Seiring dengan berkembangnya teknologi AI menjadi AI agent, isu visibility menjadi semakin penting. AI agent memiliki kemampuan untuk melakukan serangkaian tindakan otomatis berdasarkan instruksi yang diberikan. Ini meningkatkan potensi penyalahgunaan AI, karena tindakan berbahaya dapat terjadi secara otomatis dengan cepat. Perusahaan harus memiliki visibilitas yang memadai untuk memahami apa yang terjadi di dalam jaringan, aplikasi, dan penggunaan layanan AI mereka.
- Visibility saja tidak cukup; perusahaan perlu mampu melakukan enforcement dan remediation.
- Data dan metrik yang ada harus digunakan untuk mengambil tindakan nyata terhadap ancaman.
- Informasi dari sistem keamanan harus diterjemahkan menjadi langkah-langkah yang konkret.
- Keberadaan platform yang dapat melakukan tindakan otomatis sangat dibutuhkan.
- Perusahaan harus bergerak dari hanya melihat laporan menjadi bertindak berdasarkan laporan tersebut.
Inovasi dalam Keamanan Siber: Virtual Patching
Dalam menghadapi tantangan ini, F5 telah mengembangkan platform yang dikenal sebagai Application Delivery and Security Platform (ADSP). Platform ini mengintegrasikan kemampuan delivery aplikasi dengan keamanan aplikasi dan API, sehingga dapat digunakan dalam lingkungan perusahaan yang beragam, mulai dari data center hingga cloud dan edge. ADSP tidak hanya menyediakan visibility dan analitik, tetapi juga otomatisasi dan kemampuan enforcement yang diperlukan untuk melindungi sistem.
Salah satu fitur penting dari platform ini adalah virtual patching, yang memungkinkan perusahaan untuk melindungi aplikasi yang memiliki kerentanan sebelum patch keamanan resmi diterapkan. Dengan memantau, memodifikasi, atau memblokir trafik yang menuju aplikasi yang rentan, perusahaan dapat memperoleh lapisan perlindungan tambahan sembari menunggu perbaikan permanen.
Strategi Keamanan yang Proaktif
Perubahan terbesar yang diperlukan tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi juga pada cara pandang CISO terhadap kecepatan ancaman yang ada. Dengan memahami bahwa ancaman siber yang menggunakan kecerdasan buatan kini lebih canggih, perusahaan dapat lebih siap dalam menghadapinya. Hal ini menuntut perubahan dari pendekatan reaktif menjadi proaktif, di mana setiap langkah keamanan harus dirancang untuk dapat merespons ancaman dengan cepat dan efisien.
Dengan demikian, perusahaan tidak hanya akan mampu melindungi diri dari serangan siber yang semakin kompleks, tetapi juga dapat memanfaatkan potensi AI secara maksimal tanpa mengorbankan keamanan data dan informasi yang sensitif. Transformasi ini harus menjadi prioritas utama dalam strategi keamanan siber di era digital yang terus berkembang.
➡️ Baca Juga: Komisi VIII DPR Jamin Stok Bantuan Bencana NTT Memadai, Tantangan Distribusi Terus Membayangi
➡️ Baca Juga: Honda Dunk 2026: Skutik Kompak Hemat BBM dengan Harga Mulai Rp24 Jutaan




