Agentic AI Memasuki Era Baru: Persiapkan Regulasi, Infrastruktur, dan Keamanan di Indonesia

Jakarta – Kemajuan dalam bidang agentic AI telah mulai mengubah pandangan perusahaan terhadap kecerdasan buatan. Teknologi ini kini tidak hanya sekadar merespons perintah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk merencanakan, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas secara mandiri. Tantangan yang muncul adalah, apakah Indonesia telah siap untuk menghadapi transformasi ini? Pertanyaan ini akan diulas secara mendalam dalam diskusi panel Techpresso yang diselenggarakan oleh Medcom.id dengan tema “Agentic AI, Are We Ready?”. Acara ini akan mempertemukan berbagai pihak, termasuk pemerintah, industri, lembaga riset, dan sektor keamanan siber, untuk mengeksplorasi kesiapan Indonesia dalam menghadapi AI yang semakin otonom. Techpresso dijadwalkan berlangsung di Grand Studio Metro TV, Kedoya, pada 10 September 2026. Diskusi ini menjadi semakin relevan mengingat perkembangan agentic AI yang sudah beranjak dari fase eksperimen menuju tahap implementasi yang nyata.
Peluang dan Tantangan Agentic AI di Indonesia
Menurut laporan IDC FutureScape 2026, diperkirakan alokasi anggaran untuk agentic AI di kawasan Asia Pasifik akan meningkat dari 18% pada 2025 menjadi 29% pada 2026. Selain itu, Deloitte mencatat bahwa tahun 2026 akan menjadi titik balik di mana proyek-proyek AI mulai beralih dari tahap percobaan ke produksi. Potensi dari agentic AI juga tidak dapat dipandang sebelah mata, dengan proyeksi kontribusi sekitar USD120 miliar terhadap PDB ASEAN pada tahun 2027.
Namun, dengan kemampuan teknologi yang semakin mandiri ini muncul berbagai pertanyaan mendesak terkait regulasi, infrastruktur, pengembangan talenta, penelitian, dan keamanan siber. Indonesia harus mengevaluasi secara menyeluruh apakah semua elemen ini sudah siap untuk menyambut era baru kecerdasan buatan yang otonom.
Regulasi dan Kebijakan Nasional
Dalam konteks regulasi, Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, akan memberikan pandangan pemerintah mengenai kebijakan nasional yang perlu dibentuk untuk mendukung perkembangan agentic AI. Diskusi ini penting untuk membahas bagaimana Indonesia dapat mempersiapkan infrastruktur komputasi yang diperlukan serta memahami dampak AI terhadap perekonomian nasional.
- Pengaturan ketat mengenai penggunaan AI.
- Pengembangan infrastruktur digital yang memadai.
- Kolaborasi antara sektor publik dan swasta.
- Inisiatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang AI.
- Rencana jangka panjang untuk pengembangan teknologi yang berkelanjutan.
Inovasi dan Riset dalam AI
Arif Satria, Kepala BRIN, akan membahas perspektif riset dan inovasi yang sangat penting dalam konteks ini. Perkembangan AI tidak hanya bergantung pada teknologi yang tersedia, tetapi juga pada kemampuan Indonesia untuk menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang tangguh. Diskusi ini akan mengarah pada pertanyaan kritis: apakah Indonesia siap menjadi negara yang berfokus pada AI, dan bagaimana masa depan AI di Indonesia dapat dibentuk?
Beberapa poin penting yang akan diangkat meliputi:
- Peran AI sebagai pengubah permainan dalam riset.
- Strategi untuk membangun infrastruktur riset yang kuat.
- Inisiatif pendidikan untuk mempersiapkan talenta AI.
- Kolaborasi internasional dalam penelitian AI.
- Pengembangan aplikasi AI yang relevan dengan kebutuhan lokal.
Aspek Keamanan dalam Era Agentic AI
Patrick Dannacher, Presiden Direktur ITSec Asia, akan menyampaikan pandangan mengenai tantangan-tantangan keamanan yang muncul seiring dengan meningkatnya otonomi AI. Dalam era di mana AI mulai beroperasi secara mandiri, keamanan menjadi isu yang sangat penting. Diskusi ini akan mencakup analisis tentang lanskap ancaman yang ada di tingkat regional, keamanan arsitektur sistem otonom, serta strategi pertahanan siber yang perlu diterapkan untuk melindungi infrastruktur kritis.
Aspek keamanan yang akan dibahas meliputi:
- Identifikasi dan mitigasi ancaman siber baru.
- Pengembangan standar keamanan untuk sistem AI.
- Strategi respons terhadap insiden keamanan.
- Peningkatan kesadaran akan keamanan siber di kalangan pengguna AI.
- Kerjasama antar negara dalam menangani ancaman siber.
Kolaborasi Multi-Pihak untuk Membangun Ekosistem AI
Techpresso bertujuan untuk menjadi platform yang mempertemukan pemimpin industri, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya dalam membahas peluang serta tantangan yang dihadapi dalam perkembangan teknologi dan ekonomi digital di Indonesia. Kolaborasi di antara berbagai pihak ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga dapat menjadi pemimpin dalam inovasi AI.
Pentingnya kolaborasi dapat diuraikan dalam beberapa poin:
- Pembangunan jaringan antara akademisi, industri, dan pemerintah.
- Pengembangan kebijakan yang mendukung inovasi.
- Inisiatif untuk menarik investasi dalam teknologi AI.
- Program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja.
- Penguatan kapasitas riset dan pengembangan.
Kesimpulan: Menyongsong Era Baru AI di Indonesia
Dengan meningkatnya kemampuan agentic AI, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar untuk mempersiapkan diri. Diskusi yang dijadwalkan dalam acara Techpresso akan memberikan kesempatan bagi semua pihak untuk bersama-sama merumuskan langkah-langkah strategis dalam menghadapi era baru ini. Dari regulasi dan infrastruktur, hingga pengembangan talenta dan keamanan siber, semua aspek ini saling berkaitan dan harus diperhatikan dengan serius.
Di tengah potensi besar yang ditawarkan oleh agentic AI, kehadiran forum seperti Techpresso sangat dibutuhkan untuk mengarahkan Indonesia menuju masa depan yang lebih canggih dan aman dalam penggunaan kecerdasan buatan. Dengan kolaborasi yang kuat serta kebijakan yang tepat, Indonesia bisa menjadi salah satu negara yang diakui dalam perkembangan teknologi AI global.
➡️ Baca Juga: John Stones Resmi Tinggalkan Manchester City Setelah Satu Dekade Menuai Kesuksesan
➡️ Baca Juga: Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 2026 Secara Online dan Offline dengan Mudah




