SIMAKDIALOG Luncurkan Album 1995, Melestarikan Warisan Musik Riza Arshad

Jakarta – Kolektif musik jazz SIMAKDIALOG telah meluncurkan album terbarunya yang berjudul 1995 pada tanggal 1 Oktober 2026, hasil kolaborasi dengan label rekaman demajors. Album ini merefleksikan proses kreatif serta interpretasi musikal dari para anggota, yakni Sri Hanuraga, Cucu Kurnia, Jason Mountario, dan Dinar Rizkianti, yang berusaha mengolah karya-karya dari Riza Arshad, komposer dan pendiri SIMAKDIALOG.
Melanjutkan Warisan Riza Arshad
Kehilangan Riza Arshad pada awal tahun 2017 tidak menjadi penghalang bagi SIMAKDIALOG untuk terus berkarya. Kolektif ini berfungsi sebagai ruang untuk dialog dan eksperimen bagi anggotanya dalam merawat serta menginterpretasikan komposisi yang ditinggalkan Riza. Dengan pendekatan ini, mereka berharap dapat menciptakan tradisi musik yang berkelanjutan di Indonesia.
Isi Album 1995
Album 1995 menyajikan enam lagu yang direkam secara langsung pada saat konser SIMAKDIALOG di Ruang Tamu Tony. Di samping lagu utama berjudul “1995”, album ini juga menyajikan komposisi “Gong 5” dan “Gong 6” yang dipresentasikan dalam bentuk medley bersamaan dengan “Gong 1” dan “Gong 2”. Selain itu, terdapat juga interpretasi baru dari lagu favorit “This Spirit” serta satu lagu bonus yang menambah kedalaman album ini.
Eksplorasi Musik yang Tak Terbatas
Dengan rilisan ini, SIMAKDIALOG melanjutkan eksplorasi terhadap karya-karya Riza Arshad tanpa terikat pada satu formula musikal tertentu. Setiap anggota berkontribusi dengan pendekatan dan ekspresi unik mereka, sehingga menghasilkan interpretasi yang segar, sekaligus mempertahankan semangat eksperimental yang menjadi karakteristik kolektif ini.
Sejarah SIMAKDIALOG
SIMAKDIALOG didirikan oleh Riza Arshad dan Arie Ayunir, seorang drummer yang juga merupakan pendiri grup musik POTRET, pada tahun 1993. Pada tahun yang sama, gitaris Tohpati Ario Hutomo bergabung, diikuti oleh Indro Hardjodikoro yang menjadi bassist pertama, sebelum digantikan oleh Adhitya Pratama.
Perubahan dalam Formasi
Perubahan signifikan terjadi ketika Arie Ayunir pindah ke Amerika Serikat pada tahun 2001. Riza mengambil langkah untuk mengeksplorasi penggunaan kendang Sunda sebagai pengganti drum, memberikan fokus pada harmoni, struktur komposisi, dan pola ritme kendang pencak yang lebih menonjol.
Ciri Khas SIMAKDIALOG
Penerapan kendang Sunda ini menjadi salah satu ciri khas yang membedakan SIMAKDIALOG dari kelompok jazz lainnya. Eksplorasi ini tidak hanya membentuk identitas musikal mereka, tetapi juga menjangkau komunitas musik global.
Pemain Kendang dalam Perjalanan SIMAKDIALOG
Sepanjang perjalanan kolektif ini, banyak pemain kendang yang telah berkontribusi, termasuk Jalu Pratidina, Endang Ramdan, Erlan Suwardana, Emy Tata, dan Cucu Kurnia, yang masih aktif bersama SIMAKDIALOG hingga kini.
Melanjutkan Legasi Riza Arshad
Dalam perkembangan selanjutnya, pianis Sri Hanuraga bergabung untuk meneruskan perjalanan musik SIMAKDIALOG setelah kepergian Riza Arshad. Riza sangat menghargai cara bermain Hanuraga, terutama dalam hal ketertiban dalam mengolah harmoni dan gagasan musikal.
Pandangan Sri Hanuraga tentang SIMAKDIALOG
Bagi Hanuraga, kesempatan untuk menjadi bagian dari SIMAKDIALOG adalah suatu kehormatan yang besar. Ia menambahkan bahwa kolektif ini memberikan inspirasi bagi dirinya untuk lebih mendalami jazz, sementara hubungan perkenalannya dengan Riza telah dimulai sejak tahun 1997 dalam sebuah acara penghormatan untuk Emerson, Lake & Palmer.
Penghormatan terhadap Riza Arshad
Hanuraga menggambarkan Riza sebagai sosok musisi yang memiliki gaya dan komposisi yang sangat orisinal serta visi musikal yang jauh ke depan. Ia juga mengagumi dedikasi, keberanian, dan ketulusan Riza dalam berkarya.
Karakter Riza Arshad
“Beliau adalah senior yang sangat rendah hati, selalu menempatkan dirinya sejajar dengan junior dan tidak pernah sekalipun menggurui,” ungkap Hanuraga, menyoroti sifat rendah hati Riza yang menjadi panutan bagi banyak musisi muda.
Ruang Dialog dan Eksperimen dalam Musik
Bagi Hanuraga, SIMAKDIALOG lebih dari sekadar sebuah grup musik; ia melihatnya sebagai ruang dialog dan eksperimen yang dirintis serta diwariskan oleh Riza. Tradisi musikal yang ada terus dipelihara melalui proses diskusi, eksplorasi, dan pertanyaan terhadap gagasan-gagasan yang telah ada.
Wadah Diskusi dan Laboratorium Bunyi
Pandangan yang sama juga diungkapkan oleh Cucu Kurnia. Ia memaknai SIMAKDIALOG sebagai laboratorium untuk mengeksplorasi dialog bunyi, di mana setiap anggota dapat berkontribusi dalam menciptakan pengalaman musik yang inovatif dan reflektif.
Dengan peluncuran album 1995, SIMAKDIALOG tidak hanya merayakan warisan Riza Arshad, tetapi juga berkomitmen untuk terus berinovasi dan beradaptasi dalam dunia musik yang terus berkembang. Album ini merupakan pernyataan bahwa meskipun Riza telah tiada, semangat dan visi musiknya akan terus hidup melalui karya-karya yang diciptakan oleh generasi penerusnya.
➡️ Baca Juga: FCTM Tingkatkan Percepatan Pemekaran Kabupaten Cirebon Timur Melalui Video Informasi
➡️ Baca Juga: Pemprov Maksimalkan Penggunaan Bed Dryer untuk Meningkatkan Kualitas dan Nilai Jual Hasil Pertanian




