Target Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal, Simak Penyebabnya

Pemerintah Indonesia sedang berupaya mencapai ambisi ambisius untuk mengonversi 120 juta sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM) menjadi motor listrik. Inisiatif ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sumber energi fosil. Namun, berbagai tantangan dalam ekosistem konversi menjadi hambatan nyata dalam mencapai target ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Presiden telah memberikan arahan agar program ini dapat diimplementasikan dalam waktu 3 hingga 4 tahun ke depan. Namun, banyak pihak yang meragukan bahwa target ini dapat tercapai karena keterbatasan infrastruktur yang mendukung.
Tantangan dalam Ekosistem Konversi
Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah jumlah bengkel konversi yang tersertifikasi. Hingga tahun 2025, hanya terdapat 39 bengkel yang telah mendapatkan sertifikasi resmi untuk melakukan konversi. Padahal, untuk mencapai target 120 juta unit dalam kurun waktu lima tahun, Indonesia setidaknya memerlukan antara 16.000 hingga 27.000 bengkel tersertifikasi. Berikut adalah gambaran perbandingan antara kapasitas dan kebutuhan bengkel untuk mendukung program ini:
- Jumlah Bengkel Tersertifikasi (2025): 39 unit
- Kebutuhan Bengkel Ideal: 16.000 – 27.000 unit
- Target Konversi per Tahun: 24 juta unit
- Kapasitas Produksi per Bengkel: 900 – 1.500 unit/tahun
Masalah Biaya dan Distribusi Lokasi
Saat ini, bengkel konversi yang tersedia mayoritas terpusat di kawasan perkotaan seperti Jakarta, Bogor, Bandung, dan Bali. Selain itu, biaya konversi per unit berkisar antara Rp12 juta hingga Rp16 juta, yang dianggap tidak sebanding dengan harga motor baru. Hal ini menjadi faktor penghambat bagi banyak pemilik motor untuk beralih ke motor listrik.
Penyebab Sulitnya Mencapai Target Konversi
Kegagalan dalam mencapai target konversi bukanlah hal baru. Pada tahun 2023, pemerintah menargetkan konversi 50 ribu unit, namun hanya 1.000 unit yang berhasil terealisasi. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya angka konversi ini antara lain:
- Kurangnya insentif subsidi yang menarik bagi pemilik motor untuk beralih ke motor listrik.
- Proses konversi yang memakan waktu dan biaya yang cukup tinggi bagi pemilik kendaraan.
- Distribusi bengkel konversi yang tidak merata di seluruh wilayah Indonesia.
Strategi untuk Mencapai Keberhasilan Konversi
Untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan program konversi ini, Institute for Essential Services Reform (IESR) merekomendasikan agar Kementerian ESDM melakukan perencanaan yang lebih matang dan terukur. Beberapa langkah strategis yang perlu diambil meliputi:
- Menyediakan subsidi biaya konversi yang lebih menarik agar pemilik motor terdorong untuk beralih ke kendaraan listrik.
- Memperluas jaringan bengkel konversi yang tersertifikasi ke luar Pulau Jawa dengan lebih agresif.
- Menyesuaikan target tahunan berdasarkan kemampuan anggaran pemerintah dan kesiapan infrastruktur yang ada.
- Memastikan setiap hasil konversi memiliki izin laik jalan yang sesuai dengan regulasi keselamatan yang berlaku.
Kesimpulan
Program konversi 120 juta motor listrik ini memerlukan dukungan dari ekosistem yang jauh lebih luas dibandingkan dengan yang ada saat ini. Tanpa perencanaan yang matang, penambahan jumlah bengkel yang memadai, serta subsidi yang tepat sasaran, ambisi pemerintah untuk mencapai target ini berisiko tidak dapat terwujud sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan program ini, pastikan Anda mengikuti berita terbaru dari sumber-sumber terpercaya.
➡️ Baca Juga: Polresta Bogor Kota Ingatkan Agar Takbiran Tidak Dilaksanakan Dekat Ibadah Nyepi
➡️ Baca Juga: Borneo FC vs Persebaya: Saksikan Super League 2025-2026 Malam Ini di Indosiar dan Streaming Online




