Kemdiktisaintek Akan Tutup Program Studi Tidak Relevan, Menurut Kepala BRIN

Jakarta – Transformasi pendidikan tinggi di Indonesia kini menjadi topik hangat seiring dengan rencana Kementerian Pendidikan Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk menutup program studi tidak relevan dengan kebutuhan industri. Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan bahwa langkah ini merupakan langkah strategis dalam menghadapi perubahan yang cepat di dunia kerja. Menurutnya, penting bagi institusi pendidikan untuk beradaptasi agar lulusannya tetap relevan dan siap menghadapi tantangan yang ada.
Tuntutan Perubahan dalam Pendidikan Tinggi
Arif Satria menegaskan bahwa kebutuhan akan keterampilan di dunia industri diprediksi akan mengalami perubahan yang signifikan dalam waktu lima tahun ke depan. Hal ini mengindikasikan bahwa materi yang diajarkan di bangku kuliah bisa jadi sudah tidak relevan saat mahasiswa lulus. “Hasil survei menunjukkan bahwa hanya sekitar 60 persen keterampilan yang relevan akan tetap ada setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan mereka,” jelas Arif. Kondisi ini menggambarkan urgensi untuk meninjau kembali dan menutup program studi yang tidak sejalan dengan perkembangan industri.
Lebih lanjut, Arif berpendapat bahwa transformasi pendidikan tinggi harus mencakup penyesuaian kurikulum dan pengembangan program studi yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Ia menekankan bahwa perubahan ini sangat penting untuk menjaga daya saing pendidikan tinggi Indonesia di kancah global. “Langkah yang diambil oleh Pak Mendikti merupakan upaya untuk menyelamatkan pendidikan tinggi kita agar tidak tertinggal dari kemajuan industri,” ujarnya.
Pentingnya Pengembangan Talenta
Salah satu fokus utama dalam transformasi ini adalah pengembangan talenta. Arif mengingatkan bahwa jika sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak kompeten, maka Indonesia akan semakin tertinggal dalam persaingan global. “Kita perlu memperkuat kemampuan mahasiswa dengan memperkenalkan mereka pada praktik industri yang nyata,” tambahnya. Salah satu model yang disebutkan adalah kuliah mikrokredensial. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa untuk belajar sesuai perkembangan ilmu dan teknologi terkini, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan industri.
- Kuliah mikrokredensial sebagai pendekatan pendidikan yang fleksibel.
- Mahasiswa dapat memperoleh sertifikasi yang diakui oleh industri.
- Model ini membantu mahasiswa untuk lebih siap menghadapi dunia kerja.
- Pendidikan berbasis industri meningkatkan relevansi kurikulum.
- Mempercepat proses adaptasi mahasiswa terhadap perubahan kebutuhan pasar.
Arif menambahkan bahwa banyak perusahaan kini sudah menerapkan model ini. Mereka lebih memilih kandidat yang memiliki sertifikasi dari kursus-kursus singkat yang relevan dengan industri dibandingkan dengan lulusan yang hanya memiliki gelar formal. “Seorang yang menyelesaikan kursus selama enam bulan dan mendapatkan sertifikasi akan lebih memiliki daya tawar di pasar kerja dibandingkan yang hanya memiliki ijazah,” ujarnya.
Tantangan dalam Merubah Kurikulum
Meski penting, Arif mengakui bahwa merubah kurikulum adalah tantangan yang tidak mudah. “Merubah kurikulum itu sangat sulit. Alasannya adalah karena perubahan harus berbasis riset yang mendalam. Namun, jika kita tidak tegas dalam menyikapi hal ini, kita bisa tertinggal jauh,” kata Arif. Ia menekankan bahwa pendidikan tinggi harus mampu menyiapkan individu yang siap belajar dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.
Kecepatan, perubahan, dan ketidakpastian adalah tantangan yang dihadapi setiap individu di era modern ini. Oleh karena itu, Arif mengajak semua pihak untuk mendukung transformasi pendidikan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan zaman. “Kita perlu menyiapkan program studi yang relevan dengan tren masa depan dan kebutuhan industri agar lulusan kita tidak hanya sekadar meraih gelar, tetapi juga siap berkontribusi secara nyata di dunia kerja,” tutupnya.
Relevansi Program Studi dengan Kebutuhan Industri
Dalam konteks ini, relevansi program studi tidak hanya menjadi isu bagi institusi pendidikan, tetapi juga bagi mahasiswa dan calon mahasiswa. Mereka perlu memahami pentingnya memilih program studi yang tidak hanya diminati, tetapi juga memiliki prospek kerja yang baik. Arif memberikan beberapa saran bagi mahasiswa dalam memilih program studi:
- Teliti prospek karir dari program studi yang diminati.
- Perhatikan tren industri dan kebutuhan pasar kerja.
- Diskusikan dengan alumni atau profesional di bidang terkait.
- Ikuti perkembangan teknologi dan inovasi terbaru.
- Manfaatkan kesempatan untuk mengikuti kursus tambahan atau pelatihan.
Dengan cara ini, mahasiswa dapat memastikan bahwa mereka tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga keterampilan yang relevan yang akan berguna di masa depan. Kemdiktisaintek dan BRIN berkomitmen untuk mendukung perubahan ini agar pendidikan tinggi di Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
Kesimpulan: Menuju Pendidikan yang Relevan dan Berkualitas
Transformasi pendidikan tinggi merupakan langkah krusial dalam menghadapi tantangan industri yang terus berkembang. Dengan menutup program studi tidak relevan, Kemdiktisaintek berusaha untuk memastikan bahwa lulusan dari institusi pendidikan tinggi di Indonesia tidak hanya memiliki gelar, tetapi juga keterampilan yang diinginkan oleh pasar kerja. Melalui pendekatan mikrokredensial dan pengembangan kurikulum yang adaptif, diharapkan pendidikan tinggi Indonesia dapat mempersiapkan generasi yang siap berkompetisi dan berkontribusi di era globalisasi ini.
➡️ Baca Juga: Ernando Ari Berambisi Ciptakan Gawang Bajul Ijo Tanpa Kebobolan di Laga Borneo FC vs Persebaya
➡️ Baca Juga: Lalamove Kerja Sama dengan Tokio Marine dan Qoala untuk Lindungi Pengemudi dan Pengguna




