Guruh Soekarno Putra dan Kegelisahan terhadap Kehilangan Akar Seni Indonesia

Guruh Soekarno Putra, sosok yang dikenal sebagai putra bungsu Presiden Soekarno, meninggalkan dunia ini pada tanggal 26 September 2026. Kehilangan yang dialami pada usia 73 tahun itu bukan hanya kehilangan seorang individu, tetapi juga kehilangan seorang tokoh budaya yang telah berjuang untuk melestarikan seni dan kebudayaan Indonesia. Melalui karya-karyanya di bidang musik, tari, dan seni, Guruh selalu menekankan pentingnya menjaga dan merawat akar kebudayaan Indonesia. Dalam wawancara mendalam yang dilakukan dengan Shindu’s Scoop, ia menyampaikan kegelisahannya tentang semakin redupnya posisi seni Indonesia di tengah invasi budaya asing yang semakin mendominasi.
Kegelisahan yang Tumbuh Sejak Dini
Kegelisahan Guruh terhadap kondisi seni dan budaya Indonesia sudah muncul sejak ia muda. Ia menyaksikan bagaimana budaya asing, terutama dari Amerika dan Eropa, mulai mengubah wajah seni di tanah air, terutama setelah periode Orde Baru. “Secara umum, saya melihat banyak pengaruh dari kebudayaan barat yang merasuki generasi muda,” ungkap Guruh. Dia merasakan bahwa generasi muda mulai kehilangan jati diri mereka dalam seni, di mana banyak dari mereka tidak lagi mengenal kesenian tradisional yang merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia.
Perubahan dalam Berbagai Aspek Seni
Perubahan yang dirasakannya tidak hanya terbatas pada musik, tetapi juga merambah ke tarian, seni rupa, dan arsitektur. “Banyak dari mereka yang mulai tidak mengenal kesenian pertunjukan tradisional Indonesia,” tambahnya. Hal ini menjadi salah satu alasannya untuk membentuk Guruh Gipsy pada tahun 1970-an, di mana ia berupaya menggabungkan musik modern dengan unsur-unsur tradisional, termasuk gamelan. Melalui karya-karya tersebut, Guruh ingin memberikan peringatan kepada masyarakat bahwa jika tidak waspada, kebudayaan Indonesia bisa punah.
Legacy Guruh Gipsy
Dengan Guruh Gipsy, ia menciptakan sebuah platform di mana musik tradisional dan modern bisa bersatu. Menurutnya, karya-karya tersebut adalah sebuah usaha untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang perlu diperjuangkan. “Kami hanya bisa memberikan peringatan bahwa jika kita terus terhanyut oleh kebudayaan barat, kebudayaan Indonesia ini bisa hilang,” jelasnya. Kecemasan Guruh tidak hanya berakhir pada era itu; ia merasa bahwa masalah serupa masih relevan hingga saat ini.
Musik Tradisional yang Terancam Punah
Guruh mengungkapkan bahwa banyak lagu-lagu tradisional dari berbagai daerah seperti Bali, Jawa, Sunda, dan Minang telah punah. “Banyak pengetahuan tentang kebudayaan hilang sebelum sempat didokumentasikan,” keluhnya. Dia juga mencatat bahwa guru-guru yang menguasai seni tradisional semakin sedikit karena banyak yang telah berpulang. “Jika tidak ada yang mendokumentasikan, lagu-lagu tradisional ini akan hilang begitu saja,” tambahnya dengan nada prihatin.
Identitas Budaya dalam Kehidupan Sehari-hari
Guruh juga melihat bahwa krisis ini tidak hanya terjadi di dunia seni, tetapi juga merambah ke aspek kehidupan sehari-hari, termasuk bahasa dan busana. “Hal-hal yang mencerminkan identitas Indonesia semakin punah,” ujarnya. Baginya, identitas budaya tidak hanya hidup di panggung seni, tetapi juga dalam cara masyarakat beraktivitas sehari-hari.
Makna Trisakti dalam Kebudayaan
Ia mengaitkan kegelisahan ini dengan gagasan Trisakti yang dipromosikan oleh Bung Karno, khususnya prinsip “berkepribadian di bidang kebudayaan”. Guruh merasa bahwa kepribadian bangsa semakin terkikis, dan ini adalah saatnya untuk mengembalikannya ke tempat yang semestinya. “Kita harus kembali pada akar kebudayaan kita yang semakin terkikis oleh pengaruh luar,” tegasnya.
Pertemuan Budaya: Pembelajaran dan Adaptasi
Akan tetapi, Guruh tidak berpendapat bahwa Indonesia harus menutup diri dari pengaruh luar. Ia menyadari bahwa interaksi dengan budaya asing adalah hal yang alami dan telah berlangsung sejak lama. “Kita bisa mengambil unsur dari luar, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita mengolahnya menjadi sesuatu yang tetap berkarakter Indonesia,” ujarnya. Dalam pandangannya, modernitas harusnya tidak menyebabkan Indonesia kehilangan jati diri.
Pentingnya Mengedepankan Identitas Budaya
Bagi Guruh, modernitas seharusnya menjadi alat untuk memperkuat identitas budaya, bukan menghilangkannya. “Kita tidak boleh melupakan akar budaya kita,” katanya. Ia menekankan bahwa penting untuk menampilkan dan memajukan kebudayaan Indonesia, daripada menguburnya di bawah pengaruh budaya asing.
Langkah Menuju Pelestarian Seni dan Budaya
Dalam upayanya untuk melestarikan seni dan budaya, Guruh juga mengajak generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai warisan budaya mereka. “Kita harus mendidik generasi muda tentang pentingnya seni dan budaya kita,” ungkapnya. Dengan demikian, ia berharap agar minat terhadap kesenian tradisional dapat tumbuh dan berkembang, sehingga tidak ada lagi yang merasa asing dengan warisan budaya mereka sendiri.
Peran Pendidikan dalam Pelestarian Budaya
Pendidikan menjadi salah satu kunci dalam usaha pelestarian ini. “Kita perlu memasukkan pendidikan seni dan budaya ke dalam kurikulum sekolah,” sarannya. Dengan cara ini, generasi muda akan lebih memahami dan menghargai kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. “Jika mereka mengenal dan mencintai budaya mereka, mereka akan lebih mungkin untuk melestarikannya,” tambahnya.
Kesadaran Kolektif untuk Melestarikan Budaya
Kesadaran kolektif masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya. Guruh percaya bahwa semua elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, penggiat seni, hingga masyarakat umum, harus bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pelestarian budaya. “Kita harus bersama-sama menjaga dan merawat budaya kita,” serunya.
Melalui Karya untuk Membangkitkan Kesadaran
Melalui karyanya, Guruh berupaya membangkitkan kesadaran akan pentingnya melestarikan seni dan budaya. “Saya ingin setiap orang yang mendengar musik atau melihat tarian saya merasakan kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya. Ia percaya bahwa seni adalah media yang efektif untuk menyampaikan pesan dan memicu kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya.
Membangun Masa Depan yang Berakar pada Budaya
Keberadaan sosok seperti Guruh Soekarno Putra sangat penting dalam perjalanan kebudayaan Indonesia. Dengan kegelisahan dan usaha yang telah dilakukannya, ia telah menunjukkan bahwa seni dan budaya adalah bagian integral dari identitas bangsa. “Kita harus membangun masa depan yang berakar pada budaya kita, agar identitas kita tetap hidup dan berkembang,” tegasnya.
Dengan segala pencapaian dan kegelisahan yang ia bawa, Guruh Soekarno Putra akan selalu dikenang sebagai pejuang seni dan budaya yang tak kenal lelah. Melalui karya-karyanya, ia mengajak kita semua untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga merawat dan mengembangkan akar budaya Indonesia agar tetap hidup di hati setiap generasi.
➡️ Baca Juga: Persebaya Harus Siaga Menghadapi Kebangkitan Persita di Liga Indonesia
➡️ Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Tercatat Naik Menjadi Rp2.922.000 per Gram pada 2 April 2026




