Transum di Bandung Memerlukan Subsidi APBD untuk Mencegah Stagnasi Pembangunan

BANDUNG – Kota Bandung menghadapi tantangan besar dalam sektor transportasi umum yang masih memerlukan perhatian serius. Meskipun proyek infrastruktur seperti Bus Rapid Transit (BRT) dan feeder tengah berjalan berkat dukungan dana dari pemerintah pusat dan lembaga internasional, masalah operasional transportasi justru terancam stagnasi. Tanpa dukungan anggaran yang memadai, kondisi ini dapat menghambat kemajuan yang telah dicapai.
Urgensi Subsidi APBD untuk Transportasi Umum
Koordinator Politik dan Kebijakan Demokrasi Kita, Alia Sarastita, menekankan bahwa selama ini bantuan dana dari pemerintah pusat dan World Bank lebih banyak difokuskan pada pembangunan infrastruktur fisik, termasuk halte dan jalur bus. Namun, yang menjadi tanggung jawab utama untuk operasional bus dan angkutan kota (angkot) sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Kami mendesak agar pemerintah kota dan provinsi mengalokasikan anggaran secara spesifik dalam APBD, sehingga dapat terlihat secara jelas,” ungkap Alia dalam acara Kampanye Anggarkan Transum di Kota Bandung, pada Selasa (13/10/2026).
Gerakan Anggarkan Transum
Alia menambahkan bahwa gerakan “Anggarkan Transum” bertujuan untuk memastikan adanya alokasi anggaran yang berkelanjutan mulai tahun 2027. Hal ini penting agar program transportasi massal tidak hanya menjadi wacana belaka, tetapi dapat direalisasikan secara efektif.
Kekhawatiran masyarakat mengenai kondisi transportasi umum bukan tanpa alasan. Penyerapan anggaran untuk sektor ini hingga kini masih sangat rendah, yakni hanya sekitar 0,27 persen. Dengan angka ideal alokasi yang seharusnya mencapai lima persen, ketidakpastian mengenai peningkatan anggaran dalam APBD 2027 masih menjadi tanda tanya di tengah tuntutan efisiensi dari pemerintah pusat.
Kolaborasi untuk Masa Depan Transportasi
Demokrasi Kita bersinergi dengan Aliansi Wargi Bandung Peduli Transformasi Angkot secara resmi meluncurkan gerakan Anggarkan Transum! di Museum Kota Bandung. Mereka menyerukan kepada Pemkot Bandung dan Pemprov Jawa Barat untuk memastikan adanya anggaran yang memadai untuk transportasi umum dalam APBD 2027 agar layanan dapat berlanjut tanpa hambatan.
Momentum pembangunan BRT Cekungan Bandung seharusnya menjadi peluang berharga untuk memperkuat layanan transportasi. Namun, keberlanjutan proyek ini sangat bergantung pada kepastian pembiayaan yang tercantum dalam APBD 2027 dan tahun-tahun selanjutnya.
Kebutuhan Anggaran yang Jelas
Alia merinci kebutuhan anggaran untuk mengoperasikan seluruh program BRT dan feeder yang diperkirakan mencapai sekitar Rp633 miliar. Berdasarkan skema pembiayaan pemerintah, 42,9 persen dari total anggaran tersebut akan ditanggung oleh Pemkot Bandung, 30,9 persen oleh Pemprov Jabar, dan sisanya oleh kabupaten lain di Cekungan Bandung. Ini berarti ada kebutuhan sebesar Rp257 miliar di APBD Kota Bandung dan Rp185 miliar di APBD Provinsi Jawa Barat yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
- Anggaran yang dibutuhkan untuk BRT dan feeder: Rp633 miliar
- Pemkot Bandung menanggung 42,9% dari total anggaran
- Pemprov Jabar menanggung 30,9% dari total anggaran
- Kebutuhan di APBD Kota Bandung: Rp257 miliar
- Kebutuhan di APBD Provinsi Jawa Barat: Rp185 miliar
Pentingnya Dukungan Anggaran untuk Operasional Transportasi
Tanpa adanya dukungan anggaran yang memadai dari APBD, operasional transportasi umum di Bandung berisiko mengalami stagnasi. Situasi ini dapat berdampak negatif pada mobilitas masyarakat dan kualitas layanan yang diberikan. Oleh karena itu, sangat penting bagi pemerintah daerah untuk mempertimbangkan kebutuhan ini dalam penyusunan anggaran tahunan.
Dalam konteks ini, partisipasi aktif dari masyarakat dan organisasi sipil menjadi kunci untuk mendorong pemerintah agar lebih responsif terhadap kebutuhan transportasi umum. Gerakan seperti “Anggarkan Transum” menjadi salah satu cara untuk menyuarakan aspirasi masyarakat agar transportasi umum di Bandung dapat berfungsi secara optimal.
Peran Masyarakat dalam Mendorong Perubahan
Masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong pemerintah untuk lebih serius dalam mengalokasikan anggaran untuk transportasi umum. Melalui berbagai kampanye dan diskusi publik, suara masyarakat dapat menjadi pendorong bagi pemerintah untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam meningkatkan layanan transportasi.
Dengan adanya dukungan yang kuat dari masyarakat, diharapkan pemerintah akan lebih berkomitmen untuk memastikan bahwa anggaran untuk transportasi umum tidak hanya sekadar angka, tetapi benar-benar dapat direalisasikan untuk kepentingan warga.
Menatap Masa Depan Transportasi Bandung
Melihat ke depan, penting bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan transportasi masyarakat. Ini mencakup perencanaan yang matang dalam penggunaan anggaran serta pengawasan yang ketat terhadap penyerapan anggaran yang telah dialokasikan.
Transportasi umum yang baik dan terintegrasi akan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, mengurangi kemacetan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Untuk itu, alokasi subsidi APBD yang tepat menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan harapan tersebut.
Rencana Jangka Panjang untuk Transportasi Umum
Keberlanjutan proyek-proyek transportasi yang ada, seperti BRT, membutuhkan rencana jangka panjang yang jelas. Ini termasuk strategi untuk meningkatkan daya tarik transportasi umum bagi masyarakat serta memastikan aksesibilitas bagi semua kalangan.
Melalui perencanaan yang matang dan dukungan anggaran yang memadai, Bandung dapat mewujudkan sistem transportasi umum yang tidak hanya efisien tetapi juga berkelanjutan. Hal ini akan menjadi investasi bagi masa depan kota dan masyarakatnya.
Kesimpulan: Membangun Masa Depan yang Berkelanjutan
Dengan memprioritaskan alokasi subsidi APBD untuk transportasi umum, Kota Bandung dapat menghindari stagnasi dalam pembangunan infrastruktur dan layanan. Dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta, sangat diperlukan untuk mencapai tujuan ini.
Melalui kolaborasi dan komitmen bersama, Bandung dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam mengembangkan transportasi umum yang berkelanjutan, efisien, dan ramah lingkungan. Ini adalah langkah penting dalam menciptakan kota yang lebih baik bagi generasi mendatang.
➡️ Baca Juga: Prediksi Skor Timnas Ceko vs Timnas Irlandia pada 27 Maret 2026 yang Perlu Anda Ketahui
➡️ Baca Juga: Serangan Iran Mengganggu Produksi Minyak Arab Saudi, Kapasitas Terancam Menurun




